Peternakan adalah kegiatan mengembangbiakkan
dan membudidayakan hewan ternak untuk mendapatkan
manfaat dan hasil dari kegiatan tersebut.
Pengertian peternakan tidak terbatas pada
pemeliharaaan saja, memelihara dan peternakan perbedaannya terletak pada tujuan
yang ditetapkan. Tujuan peternakan adalah mencari keuntungan dengan penerapan
prinsip-prinsip manajemen pada faktor-faktor produksi yang telah dikombinasikan
secara optimal.
Kegiatan di bidang peternakan dapat dibagi atas dua
golongan, yaitu peternakan hewan besar seperti sapi, kerbau dan kuda, sedang
kelompok kedua yaitu peternakan hewan kecil seperti ayam, kelinci
dll.
Tujuan
Suatu
usaha agribisnis seperti peternakan harus mempunyai tujuan, yang berguna
sebagai evaluasi kegiatan yang dilakukan selama beternak salah atau benar.
Contoh tujuan peternakan yaitu tujuan komersial sebagai cara memperoleh
keuntungan. Bila tujuan ini yang ditetapkan maka segala prinsip ekonomi
perusahaan, ekonomi mikro dan makro, konsep akuntansi dan manajemen harus
diterapkan. Namun apabila peternakan dibuka untuk tujuan pemanfaatan sumber
daya, misalnya tanah atau untuk mengisi waktu luang tujuan utama memang bukan
merupakan aspek komersial, namun harus tetap mengharapkan modal yang ditanamkan
dapat kembali.
Manfaat
dan hasil beternak
Manfaat
yang dapat diambil dari usaha beternak kambing selain diambil hasil dagingnya,
kambing dapat diambil hasil kulitnya, kotorannya dapat dimaanfaatkan untuk
pupuk dan hasil tulangnya juga dimanfaatkan. Bahkan jenis-jenis kambing
tertentu dapat dimbil hasil susunya, hasil bulunya untuk bahan kain wol.
Manfaat
yang dapat diambil dari usaha beternak lebah apis mellifera yang bibit awalnya
didatangkan dari Australia adalah jasanya untuk polinasi (penyerbukan) tanaman,
banyak pemilik perkebunan di luar Indonesia yang menyewa koloni lebah dari
peternak untuk melakukan penyerbukan tanaman di perkebunannya. Perkebunan yang
sering menyewa koloni lebah adalah perkebunan apel.
Beternak
kelinci juga banyak memiliki manfaat, diantaranya yaitu daging yang dapat
diambil untuk menambah gizi keluarga, penambah penghasilan keluarga, kulit
kelinci dapat dijual untuk bahan industri, kotoran serta air kencingnya dapat
kita jual untuk dijadikan pupuk tanaman serta untuk bahan bakar biogas.
Manajemen
pemeliharaan ternak diperkenalkan sebagai upaya untuk dapat memberikan
keuntungan yang optimal bagi pemilik peternakan. Dalam manajemen pemeliharaan
ternak dipelajari, antara lain :seleksi bibit, pakan, kandang, Sistem perkawinan,
kesehatan hewan, Tata Laksana pemeliharaan dan pemasaran. Pakan yang
berkualitas baik atau mengandung gizi yang cukup akan berpengaruh baik terhadap
yaitu tumbuh sehat, cepat gemuk, berkembangbiak dengan baik, jumlah ternak yang
mati atau sakit akan berkurang, serta jumlah anak yang lahir dan hidup sampai
disapih meningkat. Singkatnya, pakan dapat menentukan kualitas ternak. Selain
itu berdasarkan penelitian, hasil dari kualitas pupuk dari ternak potong dengan
ternak perah berbeda. Ternak yang diberi makanan bermutu (seperti ternak
perah)akan menghasilkan pupuk yang berkualitas baik, sebaliknya ternak yang
makanannya kurang baik juga akan menghasilkan pupuk yang kualitasnya rendah.
Cara
beternak khas di daerah Indonesia
Setiap
daerah memiliki budaya ternak sendiri, budaya Timor Tengah Selatan, dalam hal
pemeliharaan ternak, umumnya penduduk yang diteliti masih memiliki kecendrungan
untuk melepas saja hewan-hewan ternak peliharaan mereka dipadang rumput pada
siang hari. Begitu pula di Maluku, bidang peternakan belum menjadi sebuah
bidang yang ditekuni oleh masyarakat. Yang ada hanyalah peternakan-peternakan
biasa tanpa adanya suatu sistem tertentu. Pada umumnya jenis-jenis hewan ternak
yang dipelihara, diantaranya adalah : kambing, ayam dan itik. Hewan-hewan
ini dibiarkan bebas berkeliaran tanpa kandang. Di Lampung, hewan-hewan ternak
dibiarkan bebas berkeliaran, dan setelah beberapa tahun kemudian, mereka
ditangkap dan dimasukkan kedalam kandang, dihitung jumlahnya dan diberi tanda
milik pada tubuhnya.
Jenis Ternak Kambing
Yang ada di Indonesia
December 1, 2009 at 12:21 am (Artikel dalam bahasa
Indonesia)
Tags: goats, kambing asli indonesia, kambing bali, kambing boer, kambing boerawa, kambing etawa, Kambing ettawa, kambing gembrong, kambing jawa randu, kambing kacang, kambing kosta, kambing marica, kambing muara, kambing p.e, kambing peranakan etawa, kambing saanen, kambing samosir, peternakan, sheep, ternak, ternak kambing
Tags: goats, kambing asli indonesia, kambing bali, kambing boer, kambing boerawa, kambing etawa, Kambing ettawa, kambing gembrong, kambing jawa randu, kambing kacang, kambing kosta, kambing marica, kambing muara, kambing p.e, kambing peranakan etawa, kambing saanen, kambing samosir, peternakan, sheep, ternak, ternak kambing
Kambing ternak (Capra aegagrus
hircus) adalah subspesies kambing liar yang secara
alami tersebar di Asia Barat Daya (daerah “Bulan
sabit yang subur” dan Turki) dan Eropa. Kambing merupakan binatang memamah
biak yang berukuran sedang. Kambing liar jantan maupun betina
memiliki tanduk sepasang, namun tanduk pada kambing jantan lebih besar.
Umumnya, kambing mempunyai jenggot, dahi cembung,
ekor agak ke atas, dan kebanyakan berbulu
lurus dan kasar. Panjang tubuh kambing liar, tidak termasuk ekor, adalah 1,3 meter
– 1,4 meter, sedangkan ekornya 12 sentimeter – 15 sentimeter. Bobot
yang betina 50 kilogram – 55 kilogram, sedangkan
yang jantan bisa mencapai 120 kilogram. Kambing liar tersebar dari Spanyol
ke arah timur sampai India, dan dari India ke utara
sampai Mongolia dan Siberia. Habitat yang disukainya
adalah daerah pegunungan yang berbatu-batu.
Kambing sudah dibudidayakan manusia
kira-kira 8000 hingga 9000 tahun yang lalu. Di alam aslinya, kambing hidup
berkelompok 5 sampai 20 ekor. Dalam pengembaraannnya mencari makanan, kelompok
kambing ini dipimpin oleh kambing betina yang paling tua, sementara
kambing-kambing jantan berperan menjaga keamanan kawanan. Waktu aktif mencari
makannya siang maupun malam hari. Makanan utamanya adalah rumput-rumputan
dan dedaunan.Kambing berbeda dengan domba.
Perkembangbiakan
Kambing berkembang biak dengan melahirkan. Kambing
bisa melahirkan dua hingga tiga ekor anak, setelah bunting selama
150 hingga 154 hari. Dewasa kelaminnya dicapai pada usia empat bulan.
Dalam setahun, kambing dapat beranak sampai dua kali.
Jenis-jenis Kambing yang di ternakkan di Indonesia
1. kambing kacang

Kambing kacang adalah ras unggul kambing yang
pertama kali dikembangkan di Indonesia. Badannya kecil. Tinggi gumba
pada yang jantan 60 sentimeter hingga 65 sentimeter, sedangkan yang betina 56
sentimeter. Bobot pada yang jantan bisa mencapai 25 kilogram, sedang
yang betina seberat 20 kilogram. Telinganya tegak, berbulu lurus dan pendek.
Baik betina maupun yang jantan memiliki dua tanduk yang
pendek.
Kambing kacang merupakan kambing lokal Indonesia,
memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi alam setempat serta
memiliki daya reproduksi yang sangat tinggi. Kambing kacang jantan dan betina
keduanya merupakan tipe kambing pedaging.
Karakteristik:- Tubuh kambing relatif kecil dengan kepala ringan dan kecil.
- telinga pendek dan tegak lurus mengarah ke atas depan.
- pada umumnya memiliki warna bulu tungga yakni: putih, hitam dan coklat, serta adakalnya campuran dari ketiganya.
- kambing jantan maupun betina meiliki tanduk.
- Berat tubuh jantan dewasa dapat mencapai 30 Kg, serta betina dewasa mencapai 25 Kg.
- memiliki bulu pendek pada seluruh tubuh, kecuali pada ekor dan dagu, pada kambing jantan juga tumbuh bulu panjang sepanjang garis leher, pundak dan punggung sampai ekor dan pantat.
2. Kambing Etawa

Kambing Etawa didatangkan dari India yang disebut kambing Jamnapari. Badannya besar, tinggi gumba yang jantan 90 sentimeter hingga 127 sentimeter dan yang betina hanya mencapai 92 sentimeter. Bobot yang jantan bisa mencapai 91 kilogram, sedangkan betina hanya mencapai 63 kilogram. Telinganya panjang dan terkulai ke bawah. Dahi dan hidungnya cembung. Baik jantan maupun betina bertanduk pendek. Kambing jenis ini mampu menghasilkan susu hingga tiga liter per hari. Keturunan silangan (hibrida) kambing Etawa dengan kambing lokal dikenal sebagai sebagai kambing “Peranakan Etawa” atau “PE”. Kambing PE berukuran hampir sama dengan Etawa namun lebih adaptif terhadap lingkungan lokal Indonesia.
3. Kambing Jawarandu

Kambing Jawarandu merupakan kambing hasil persilangan antara kambing Etawa dengan kambing Kacang. Kambing ini memliki ciri separuh mirip kambing Etawa dan separuh lagi mirip kambing Kacang. Kambing ini dapat menghasilkan susu sebanyak 1,5 liter per hari.

Kambing Jawa Randu memiliki nama lain Bligon, Gumbolo, Koplo dan Kacukan. Merupakan hasil silangan dari kambing peranakan ettawa dengan kambing kacang, sifat fisik kacang lebih dominan. Baik jantan atupun betina merupakan tipe pedaging.

Karakteristik:
- Memiliki tubuh lebih kecil dari kambing ettawa, dengan bobot kambing jantan dewasa dapat lebih dari 40 Kg, sedangkan betina dapat mencapai bobot 40 Kg.
- Baik jantan maupun betina bertanduk.
- Memiliki telinga lebar terbuka, panjang dan terkulai.
4. Kambing Saanen

Kambing Saenen berasal dari Saenen, Swiss. Baik kambing jantan maupun betinanya tidak memliki tanduk. Warna bulunya putih atau krem pucat. Hidung, telinga dan kambingnya berwarna belang hitam. Dahinya lebar, sedangkan telinganya berukuran sedang dan tegak. Kambing ini merupakan jenis kambing penghasil susu.

Berasal dari lembah Saanen Swiss bagian barat. Merupakan jenis kambing terbesar di Swiss. Sulit berkembang di wilayah tropis karena kepekaannya terhadap matahari. Ciri-ciri telinga tegak dan mengarah ke depan, bulu dominan putih, kadang2 ditemui bercak hitam pada hidung, telinga atau ambing. Produksi susu 740 kg/ms laktasi.

Di Indonesi jenis kambing ini di silangkan lagi denga jenis kambing lain yang lebih resisten terhadap cuaca tropis, misalnya dengan jenis etawa.
5. KAMBING MARICA
Kambing Marica adalah suatu variasi lokal dari
Kambing Kacang
Kambing Marica yang terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu genotipe kambing asli Indonesia yang menurut laporan FAO sudah termasuk kategori langka dan hampir punah (endargement). Daerah populasi kambing Marica dijumpai di sekitar Kabupaten Maros, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Sopeng dan daerah Makassar di Propinsi Sulawesi Selatan. Kambing Marica punya potensi genetik yang mampu beradaptasi baik di daerah agro-ekosistem lahan kering, dimana curah hujan sepanjang tahun sangat rendah. Kambing Marica dapat bertahan hidup pada musim kemarau walau hanya memakan rumput-rumput kering di daerah tanah berbatu-batu.Ciri yang paling khas pada kambing ini adalah telinganya tegak dan relatif kecil pendek dibanding telinga kambing kacang. Tanduk pendek dan kecil serta kelihatan lincah dan agresif.
6. KAMBING SAMOSIRKambing Marica yang terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu genotipe kambing asli Indonesia yang menurut laporan FAO sudah termasuk kategori langka dan hampir punah (endargement). Daerah populasi kambing Marica dijumpai di sekitar Kabupaten Maros, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Sopeng dan daerah Makassar di Propinsi Sulawesi Selatan. Kambing Marica punya potensi genetik yang mampu beradaptasi baik di daerah agro-ekosistem lahan kering, dimana curah hujan sepanjang tahun sangat rendah. Kambing Marica dapat bertahan hidup pada musim kemarau walau hanya memakan rumput-rumput kering di daerah tanah berbatu-batu.Ciri yang paling khas pada kambing ini adalah telinganya tegak dan relatif kecil pendek dibanding telinga kambing kacang. Tanduk pendek dan kecil serta kelihatan lincah dan agresif.
Berdasarkan sejarahnya kambing ini dipelihara
penduduk setempat secara turun temurun di Pulau Samosir, di tengah Danau Toba,
Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Kambing Samosir pada mulanya
digunakan untuk bahan upacara persembahan pada acara keagamaan salah satu
aliran kepercayaan aninisme (Parmalim) oleh penduduk setempat. Kambing yang
dipersembahkan harus yang berwama putih, maka secara alami penduduk setempat
sudah selektif untuk memelihara kambing mereka mengutamakan yang berwarna
putih. Kambing Samosir ini bisa menyesuaikan diri dengan kondisi ekosistem
lahan kering dan berbatu-batu, walaupun pada musim kemarau biasanya rumput
sangat sulit dan kering. Kondisi pulau Samosir yang topografinya berbukit,
ternyata kambing ini dapat beradaptasi dan berkembang biak dengan baik.
Penelitian terhadap kambing spesifik lokal yang ada
di Kabupaten Samosir Sumatera Utara dilakukan untuk mengetahui karakteristik
morfologik tubuh. Pengamatan ini dilakukan secara langsung dilapangan melalui
pengukuran morfologik tubuh. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif.
Dari hasil yang diperoleh karakteristik morfologik tubuh kambing dewasa yaitu
rataan bobot badan betina 26,23 kurang lebih 5,27 kg; panjang badan 57,61
kurang lebih 5,33 cm; tinggi pundak 50,65 kurang lebih 5,28 cm; tinggi pinggul
53,22 kurang lebih 5,43 cm; dalam dada 28,67 kurang lebih 4,21 cm dan lebar
dada 17,72 kurang lebih 2,13 cm. Berdasarkan ukuran morfologik tubuh, bahwa
kambing spesifik lokal Samosir ini hampir sama dengan kambing Kacang yang ada
di Sumatera Utara, yang membedakannya terhadap kambing Kacang yaitu penotipe
warna tubuh yang dominan putih dengan hasil observasi 39,18% warna tubuh putih
dan 60,82% warna tubuh belang putih hitam. Dari warna belang putih hitam
didapatkan rataan sebaran warna berdasarkan luasan permukaan tubuh 92,68% kurang
lebih 4,23% warna putih dan 7,32 kurang lebih 4,11% warna hitam. Jenis kambing
jantan berwarna putih sangat diperlukan untuk acara ritual dan adat kebudayaan
setempat (parmalim). Pemberian nama kambing Samosir pada saat ini masih secara
lokal dan dikenal dengan nama Kambing Putih atau Kambing Batak. Kata Kunci:
Morfologik Tubuh, Spesifik Lokal Samosir
7. KAMBING MUARA
Kambing Muara dijumpai di daerah Kecamatan Muara,
Kabupaten Tapanuli Utara di Propinsi Sumatera Utara. Dari segi penampilannya
kambing ini nampak gagah, tubuhnya kompak dan sebaran warna bulu bervariasi
antara warna bulu coklat kemerahan, putih dan ada juga berwarna bulu hitam.
Bobot kambing Muara ini lebih besar dari pada kambing Kacang dan kelihatan
prolifik. Kambing Muara ini sering juga beranak dua sampai empat sekelahiran
(prolifik). Walaupun anaknya empat ternyata dapat hidup sampai besar walaupun
tanpa pakai susu tambahan dan pakan tambahan tetapi penampilan anak cukup
sehat, tidak terlalu jauh berbeda dengan penampilan anak tunggal saat
dilahirkan. Hal ini diduga disebabkan oleh produksi susu kambing relatif baik
untuk kebutuhan anak kambing 4 ekor.
8. KAMBING KOSTA
Lokasi penyebaran kambing Kosta ada di sekitar
Jakarta dan Propinsi Banten. Kambing ini dilaporkan mempunyai bentuk tubuh
sedang, hidung rata dan kadangkadang ada yang melengkung, tanduk pendek, bulu
pendek. Kambing ini diduga terbentuk berasal dari persilangan kambing Kacang
dan kambing Khasmir (kambing impor). Hasil pengamatan, ternyata sebaran warna
dari kambing Kosta ini adalah coklat tua sampai hitam. Dengan presentase
terbanyak hitam (61 %), coklat tua (20%), coklat muda (10,2%), coklat merah
(5,8%), dan abu-abu (3,4%). Pola warna tubuh umumnya terdiri dari 2 warna, dan
bagian yang belang didominasi oleh warna putih.
Kambing Kosta terdapat di Kabupaten Serang,
Pandeglang, dan disekitarnya serta ditemukan pula dalam populasi kecil di
wilayah Tangerang dan DKI Jakarta.
Selama ini masyarakat hanya mengenal Kambing Kacang sebagai kambing asli Indonesia, namun karena bentuk dan performa Kambing Kosta menyerupai Kambing Kacang, sering sulit dibedakan antara Kambing Kosta dengan Kambing Kacang, padahal bila diamati secara seksama terdapat perbedaan yang cukup signifikan.
Salah satu ciri khas Kambing Kosta adalah terdapatnya motif garis yang sejajar pada bagian kiri dan kanan muka, selain itu terdapat pula ciri khas yang dimiliki oleh Kambing Kosta yaitu bulu rewos di bagian kaki belakang mirip bulu rewos pada Kambing Peranakan Ettawa (PE), namun tidak sepanjang bulu rewos pada Kambing PE dengan tekstur bulu yang agak tebal dan halus. Tubuh Kambing Kosta berbentuk besar ke bagian belakang sehingga cocok dan potensial untuk dijadikan tipe pedaging.Saat ini populasi Kambing Kosta terus menyusut, walaupun data yang pasti untuk populasi Kambing Kosta tidak diketemukan, namun perkiraan populasinya di Provinsi Banten hanya tinggal ratusan ekor saja (500-700 ekor).
9. KAMBING GEMBRONGSelama ini masyarakat hanya mengenal Kambing Kacang sebagai kambing asli Indonesia, namun karena bentuk dan performa Kambing Kosta menyerupai Kambing Kacang, sering sulit dibedakan antara Kambing Kosta dengan Kambing Kacang, padahal bila diamati secara seksama terdapat perbedaan yang cukup signifikan.
Salah satu ciri khas Kambing Kosta adalah terdapatnya motif garis yang sejajar pada bagian kiri dan kanan muka, selain itu terdapat pula ciri khas yang dimiliki oleh Kambing Kosta yaitu bulu rewos di bagian kaki belakang mirip bulu rewos pada Kambing Peranakan Ettawa (PE), namun tidak sepanjang bulu rewos pada Kambing PE dengan tekstur bulu yang agak tebal dan halus. Tubuh Kambing Kosta berbentuk besar ke bagian belakang sehingga cocok dan potensial untuk dijadikan tipe pedaging.Saat ini populasi Kambing Kosta terus menyusut, walaupun data yang pasti untuk populasi Kambing Kosta tidak diketemukan, namun perkiraan populasinya di Provinsi Banten hanya tinggal ratusan ekor saja (500-700 ekor).
Asal kambing Gembrong terdapat di daerah kawasan
Timur Pulau Bali terutama di Kabupaten Karangasem. Ciri khas dari kambing ini
adalah berbulu panjang. Panjang bulu sekitar berkisar 15-25 cm, bahkan rambut
pada bagian kepala sampai menutupi muka dan telinga. Rambut panjang terdapat
pada kambing jantan, sedangkan kambing Gembrong betina berbulu pendek berkisar
2-3 cm. Warna tubuh dominan kambing Gembrong pada umumnya putih (61,5%)
sebahagian berwarna coklat muda (23,08%) dan coklat (15,38%). Pola warna tubuh
umumnya adalah satu warna sekitar 69,23% dan sisanya terdiri dari dua warna
15,38% dan tiga warna 15,38%. Rataan litter size kambing Gembrong adalah 1,25.
Rataan bobot lahir tunggal 2 kg dan kembar dua 1,5 kg. Tingkat kematian
prasapih 20%.
Asal usul kambing gembrong belum bisa dipastikan.
Ada yang menduga kambing tersebut merupakan persilangan antara kambing Kashmir
dengan kambing Turki. Dugaan ini didasarkan pada ciri-ciri fisik kambing yang
hampir mirip dengan kambing gembrong.
Dua jenis kambing itu masuk ke Bali dari luar
negeri sebagai hadiah untuk seorang bangsawan Bali. Dari persilangan dua
kambing itulah kambing gembrong muncul. Kambing itu berkembang hingga beranak
pinak. Tetapi, cerita ini juga masih simpang siur. Soal asal usul kambing itu
masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
“Kambing gembrong sangat unik. Kambing ini dulunya
banyak hidup di daerah pantai di Kabupaten Karangasem. Nelayan sering memotong
bulunya yang panjang lalu diikatkan ke kail untuk menangkap ikan,” kata Ketua
Yayasan Bali Tekno Hayati yang juga peneliti di Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian (BPTP) Provinsi Bali, Suprio Guntoro.
Kajian ilmiah soal “khasiat” bulu kambing itu
hingga bisa mengundang ikan datang memang belum diketahui secara persis. Para
nelayan setempat berkeyakinan, bulu yang ditaruh dekat kail itu bercahaya
hingga mengundang ikan berdatangan.
Ikan yang hiruk pikuk di dekat bulu itu akan
tersangkut mata kail yang letaknya tak jauh dari bulu kambing itu. Tanpa pakan,
nelayan dengan mudah mendapat ikan. Cara ini sudah dikenal lama dan masih
digunakan nelayan setempat.
IHWAL makin punahnya kambing itu diduga disebabkan
oleh banyak hal. Ada yang menyebutkan bermula dari kepercayaan nelayan yang
berkeyakinan bahwa bila kambing jantan sering dikawinkan dengan kambing betina
akan menyebabkan bulunya rontok.
Mereka berusaha mencegah kambing jantan itu
mengawini kambing betina agar bulunya tetap lebat. Maklum saja, mereka berusaha
mendapatkan bulu itu karena harganya sangat mahal, bahkan hingga mencapai Rp
400.000 per kilogram. Tentu saja nelayan berusaha agar bulu kambing itu tetap
lebat.
“Akibatnya regenerasi kambing gembrong ini sangat
lambat, hingga sekarang tinggal sedikit. Kita sudah berupaya dengan memberi
penyuluhan kepada penduduk bahwa tidak benar kalau sering kawin bisa
mengakibatkan bulu rontok,” kata Guntoro.
Upaya penyuluhan terus dilakukan, tetapi masih saja
ada masyarakat yang percaya dengan keyakinan itu hingga menyulitkan upaya
pelestarian kambing itu. Keyakinan itu masih melekat di kalangan pemilik
kambing.
Makin punahnya kambing itu juga diakibatkan desakan
ekonomi nelayan setempat. Para nelayan yang umumnya miskin dengan mudah menjual
kambing itu ke tukang jagal karena desakan ekonomi. Misalnya ketika anak harus
sekolah, mereka terpaksa menjual kambing itu untuk biaya sekolah anak-anak
mereka.
Ada juga yang menyebutkan, dengan bulu yang lebat
hingga menutup bagian kepala, menjadikan kambing ini mudah punah. Alasannya,
kambing ini kesulitan untuk makan akibat mata dan mulutnya tertutup oleh bulu.
Kesulitan ini mengakibatkan makanan sulit masuk ke mulut hingga tidak bisa
menerima masukan gizi yang memadai. Akibatnya, kambing mudah terserang penyakit
hingga mati. Semua penyebab ini mungkin saja saling berkait hingga makin
memperparah kepunahan kambing tersebut. Tanpa disadari kambing itu terus
berkurang.
UPAYA untuk melestarikan kambing gembrong ini belum
dilakukan secara serius. Dari tahun ke tahun belum ada pihak yang mau
melestarikan hewan ini, bahkan nyaris terlupakan dan tidak mendapat perhatian.
Pada mulanya, Yayasan Bali Tekno Hayati yang
mendapat sponsor dari Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati) pada tahun
1998-1999 mulai melakukan konservasi. Dengan dana Rp 25 juta, yayasan membeli
kambing itu dari nelayan, kemudian menitipkannya.
Mereka yang dititipi berhak mendapat induknya,
namun berkewajiban untuk menyerahkan anakannya. Dari anakan ini, yayasan
kemudian menitipkannya lagi ke peternak lainnya yang diharapkan agar terus
berkembang hingga kambing ini bisa lestari. Akan tetapi, upaya ini hanya
berlangsung dua tahun akibat yayasan kesulitan dana untuk melestarikan kambing
itu. Dana dari Kehati hanya dapat digunakan selama dua tahun itu.Di sisi lain,
dengan alasan tertentu akibat desakan ekonomi, kambing-kambing itu tidak
terurus dengan baik. Bahkan, peternak juga ada yang menjualnya hingga upaya
pelestarian terhambat.
Agar tidak makin punah, Yayasan Bali Tekno Hayati
dengan bekerja sama BPTP melokalisasi kambing yang masih menjadi hak yayasan.
Sebanyak tujuh ekor kambing akhirnya dipindah dan dipelihara di kebun percobaan
BPTP Bali di Desa Sawe, Kabupaten Jembrana.
Dari tujuh ekor itu kini telah beranak menjadi 10
ekor. Kedua lembaga itu kini berusaha melestarikan satwa langka tersebut secara
in situ atau di habitatnya, yaitu di Kabupaten Karangasem dan eks situ atau di
luar habitatnya.
Mereka juga mencoba menyilangkan dengan kambing
peranakan ettawah (PE). Dengan persilangan itu dihasilkan kambing gettah alias
gembrong ettawah.
Saat ini, setidaknya terdapat enam induk kambing
peranakan ettawah yang mengandung benih gembrong. Persilangan ini salah satunya
dilakukan di Desa Bongancina, Kecamatan Bungsubiu, Kabupaten Buleleng.
Harapannya, agar kambing gembrong tidak punah.
Upaya pelestarian ini masih jauh dari yang
diharapkan. Jumlah kambing itu masih bisa makin berkurang kalau tidak ada upaya
serius untuk melestarikannya. Apalagi sebagian besar kambing yang masih hidup
berada di tangan peternak atau nelayan yang miskin. Masih banyak dibutuhkan
bantuan dan dukungan dari semua pihak agar kambing ini tidak lenyap.
Mengharapkan bantuan pemerintah? Mungkin masih
sulit untuk mendapatkan bantuan pemerintah untuk urusan yang satu ini.
Pemerintah belum banyak memperhatikan masalah seperti ini. Pemerintah masih
sibuk dengan urusan ekonomi dan politik yang belum selesai hingga sekarang.
Siapa tahu ada sponsor yang mau membantu
pelestarian kambing yang satu ini. Sayang bila kambing gembrong hilang dari
muka Bumi hanya karena kita lalai untuk melestarikannya.


*foto kambing gembrong :: yang kalo dilihat bentuk tubuhnya sudah lebih banyak ciri fisiologis kambing ettawanya*
10.Kambing Boer

Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan dan telah
menjadi ternak yang ter-registrasi selama lebih dari 65 tahun. Kata “Boer”
artinya petani. Kambing Boer merupakan satu-satunya kambing pedaging yang
sesungguhnya, yang ada di dunia karena pertumbuhannya yang cepat.
Kambing ini dapat mencapai berat dipasarkan 35 – 45 kg pada umur lima hingga
enam bulan, dengan rataan pertambahan berat tubuh antara 0,02 – 0,04 kg per
hari. Keragaman ini tergantung pada banyaknya susu dari induk dan ransum pakan
sehari-harinya. Dibandingkan dengan kambing perah lokal, persentase daging pada
karkas kambing Boer jauh lebih tinggi dan mencapai 40% – 50% dari berat
tubuhnya

.
Kambing Boer dapat dikenali dengan mudah dari
tubuhnya yang lebar, panjang, dalam, berbulu putih, berkaki pendek, berhidung
cembung, bertelinga panjang menggantung, berkepala warna coklat kemerahan atau
coklat muda hingga coklat tua. Beberapa kambing Boer memiliki garis putih ke
bawah di wajahnya. Kulitnya berwarna coklat yang melindungi dirinya dari kanker
kulit akibat sengatan sinar matahari langsung. Kambing ini sangat suka berjemur
di siang hari.
Gambar anatomy kambing boer
Karkas Kambing Boer
KARAKTERISTIK KAMBING BOER JANTAN

Boer jantan bertubuh kokoh dan kuat sekali.
Pundaknya luas dan ke belakang dipenuhi dengan pantat yang berotot. Kambing
Boer dapat hidup pada suhu lingkungan yang ekstrim, mulai dari suhu sangat
dingin (-25oC) hingga sangat panas (43oC) dan mudah beradaptasi terhadap
perubahan suhu lingkungan. Tahan terhadap penyakit. Mereka dapat hidup di
kawasan semak belukar, lereng gunung yang berbatu atau di padang rumput. Secara
alamiah mereka adalah hewan yang suka meramban sehingga lebih menyukai
daun-daunan, tanaman semak daripada rumput.
Kambing Boer jantan dapat menjadi hewan yang jinak,
terutama jika terus berada di sekitar manusia sejak lahir, meskipun ia akan
tumbuh dengan berat badan 120 – 150 kg pada saat dewasa (umur 2-3 tahun).
Mereka suka digaruk dan digosok di bagian belakang telinganya, hingga punggung
dan sisi perutnya. Mereka dapat mudah ditangani dengan memegang tanduknya.
Mereka dapat juga dilatih dituntun dengan tali. Namun, sebaiknya jangan
mendorong bagian depan kepalanya karena mereka akan menjadi agresif.
Boer jantan dapat kawin di bulan apa saja sepanjang
tahun. Mereka berbau tajam karena hal ini untuk memikat betina. Seekor pejantan
dapat aktif kawin pada umur 7-8 bulan, tetapi disarankan agar satu pejantan
tidak melayani lebih dari 8 – 10 betina sampai pejantan itu berumur sekitar
satu tahun. Boer jantan dewasa (2 – 3 tahun) dapat melayani 30 – 40 betina.
Disarankan agar semua pejantan dipisahkan dari betina pada umur 3 bulan agar
tidak terjadi perkawinan yang tidak direncanakan. Seekor pejantan dapat
mengawini hingga selama 7 – 8 tahun.
KARAKTERISTIK KAMBING BOER BETINA
Boer betina tumbuh seperti jantan, tetapi tampak
sangat feminin dengan kepala dan leher ramping. Ia sangat jinak dan pada
dasarnya tidak banyak berulah. Ia dapat dikawinkan pada umur 10 – 12 bulan,
tergantung besar tubuhnya. Kebuntingan untuk kambing adalah 5 bulan. Ia mampu
melahirkan anak-anak tiga kali dalam dua tahun. Betina umur satu tahunan dapat
menghasilkan 1 – 2 anak. Setelah beranak pertama, ia biasanya akan beranak
kembar dua, tiga, bahkan empat. Boer induk menghasilkan susu dengan kandungan
lemak sangat tinggi yang cukup untuk disusu anak-anaknya. Ketika anaknya
berumur 2½ – 3½ bulan induk mulai kering. Boer betina mempunyai dua hingga
empat puting, tetapi kadangkala tidak semuanya menghasilkan susu. Sebagai
ternak yang kawinnya tidak musiman, ia dapat dikawinkan lagi tiga bulan setelah
melahirkan. Birahinya dapat dideteksi dari ekor yang bergerak-gerak cepat
disebut “flagging”. Boer betina mampu menjadi induk hingga selama 5 – 8 tahun.
Betina dewasa (umur 2-3 tahun) akan mempunyai berat 80 – 90 kg. Boer betina maupun
jantan keduanya bertanduk.
PERKAWINAN SILANG DENGAN KAMBING LOKAL
Kambing lokal yang dipelihara di Indonesia berasal
dari berbagai varietas kambing jenis perah. Jika Boer jantan dikawinkan dengan
kambing lokal, baik secara alam atau dengan inseminasi buatan, hasil
persilangannya (F1) yang memiliki 50% Boer sangatlah mengagumkan. Keturunan F1
ini akan membawa kecenderungan genetik yang kuat dari Boer. Besarnya tubuh dan
kecepatan pertumbuhannya akan tergantung pada besarnya kambing lokal yang
dikawinkan. Tergantung dari ransum pakannya, hasil silangan jantan dapat
mencapai berat dipasarkan 35 – 45 kg dalam waktu enam sampai delapan bulan,
dengan peningkatan jumlah daging pada karkas lebih banyak dari yang dihasilkan
anak kambing lokal dengan umur yang sama. Penting untuk dipahami bahwa protein
membentuk otot. Penggunaan jagung, tanaman leguminosa dan rumput lokal
merupakan sumber protein alami yang sangat bagus. Pada umur satu minggu, anak
kambing harus disediakan pakan dari sumber yang sama dengan induknya. Meskipun
mereka masih menyusu induknya, mereka akan mulai makan hijauan pada umur sangat
muda. AIR MINUM TERSEDIA SETIAP SAAT ADALAH PENTING
baik untuk induk maupun anaknya.
11.Persilangan Kambing Boer dengan Kambing Jawa Randu

12.Kambing Boerawa
Kambing Boerawa merupakan kambing hasil persilangan
antara kambing Boer jantan dengan kambing Peranakan Etawah (PE) betina. Ternak
hasil persilangan kedua jenis kambing tadi disebut dengan Boerawa yakni
singkatan dari kata Boerawa dan Peranakan Etawah. Kambing hasil persilangan ini
mulai berkembang dan banyak jumlahnya di Propinsi Lampung khususnya dalam kurun
waktu 3 tahun terakhir ini, walaupun upaya persilangan antara kambing Boer
dengan kambing lokal telah dilakukan dibeberapa propinsi lainnya seperti Sumatera
Utara dan Sulawesi Selatan.
Timbulnya upaya mengembangkan kambing Boerawa di
Lampung, sebenarnya didasari oleh makin rendahnya harga kambing-kambing PE
milik kelompok-kelompok tani ternak wilayah Gedong Tataan Lampung Selatan.
Selama ini kambing PE lebih banyak dijual sebagai kambing bibit dengan konsumen
peternak dari luar propinsi seperti Bengkulu, jambi, Sumatera Barat hingga
Aceh, namun entah bagaimana 3 tahun terakhir ini permintaan bibit kambing PE
dari lokasi-lokasi tersebut makin berkurang dan oleh pemiliknya banyak dijual
sebagai kambing potong. Sebagai kambing potong, nilai jualnya dihargai atau
dinilai berdasarkan bobot badannya. Hal itu tentunya merugikan peternak
dikarenakan postur tubuh kambing PE tidak banyak memiliki daging yang tebal, namun
cenderung kurus dan tinggi. Sehingga pendapatan atau harga yang diterima
peternak dirasakan tidak sebanding dengan kualitas ternak yang dijual tersebut.
Sebagai kambing bibit, harga kambing PE relatif lebih tinggi jika dibandingkan
dengan sebagai kambing potong. Harga jual kambing bibit makin tinggi jika
kualitas ternak yang dijual makin bagus.
Turunnya harga ternak kambing sempat menyebabkan
menurunnya motivasi kelompok untuk mengembangkan ternaknya. Namun terkadang
muncul pertanyaan, mengapa harga jual kambing PE di wilayah tersebut mengalami
penurunan ?. Beberapa hal yang mungkin saja menjadi penyebabnya, antara lain :
-1) Daerah atau wilayah-wilayah yang selama ini membeli kambing PE bibit tidak
lagi membeli dikarenakan sudah mampu menghasilkan kambing PE sendiri sehingga
dirasakan tidak atau kurang perlu mendatangkan kambing PE dari luar daerah,.
-2) Kualitas kambing PE yang ada di Gedong Tataan kalah bersaing dengan daerah
lain, sehingga konsumen lebih memilih mendatangkan kambing dari daerah-daerah
tersebut.
Salah satu upaya pemecahan masalah diatas tadi
adalah dengan mengembangkan dan mengenalkan kambing potong yang memiliki
produksi daging yang lebih tinggi melalui upaya persilangan. Memperhatikan dari
hasil penelitian, pengamatan dan lainnya (studi literatur, studi banding),
Dinas Peternakan Propinsi Lampung mencoba menghasilkan kambing silangan Boer
dengan PE. Latar belakang pemikirannya adalah mendapatkan sifat produksi daging
yang tinggi dari kambing Boer dan memperoleh penampilan tubuh yang tinggi dan
panjang dari kambing PE, sehingga diharapkan diperoleh kambing yang gempal
namun berpostur besar dan tinggi. Selain aspek tersebut, hal lain yang
mendasari penggunaan kedua jenis kambing tersebut adalah kemampuan beradaptasi
dengan aspek lingkungan yang tinggi.
Upaya mengembangkan ternak kambing hasil
persilangan ini mendapat respon yang baik dari peternak maupun dari instansi
terkait didaerah. Sejak 2 tahun terakhir, program pengembangan kambing Boerawa
banyak dilakukan dibeberapa kabupaten /kota di Lampung. Sebagai contoh
Kabupaten Tanggamus telah mencanangkan diri sebagai daerah kambing Boerawa.
Sebagai suatu upaya meningkatkan produktifitas
kambing lokal, persilangan untuk menghasilkan kambing Boerawa perlu didukung
dan ditindak lanjuti secara terukur. Maksudnya adalah dengan tetap
memperhatikan kaidah-kaedah teknis perbibitan ternak sehingga dapat diperoleh
kambing persilangan yang benar-benar memiliki performans dan nilai genetik yang
tinggi. Persilangan bagaimanapun bentuknya, sebagai suatu cara atau metode
perbaikan mutu genetik ternak hendaknya mengacu kepada kaidah-kaidah perbibitan
dan pembibitan ternak. Harapannya adalah untuk memperoleh mutu genetik yang
lebih unggul dan menghindari hal-hal yang merugikan seperti terjadinya
inbreeding dan sebagainya. Hal tersebut tentunya diaplikasikan dalam bentuk
tatalaksana pemeliharaan yang baik, sistim perkawinan dan seleksi yang benar
hingga penetapan standar/kelas kambing Boerawa.
Selama ini Boerawa diartikan kambing silangan
antara pejantan Boer dengan betina PE, batasan apakah harus menggunakan betina
PE berkelas ataupun PE jenis rambon belum ditetapkan secara jelas, begitu juga
dengan penggunaan istilah Boerawa . Sebutan Boerawa selama ini ditujukan untuk
ternak turunan yang jantan saja, entah berasal dari hasil persilangan pertama
ataupun hasil backcrossnya. Kedepan nampaknya diperlukan upaya-upaya yang lebih
terfokus dalam menyusun rancangan peningkatan mutu genetik secara terukur dan
terancang. Arti terancang disini adalah adanya desain
ataupun saemacam cetak biru pola atau bentuk dari
pemuliaan yang hendak dilakukan, sedangkan terukur dimaksudkan dapat diamati
hasil dari upaya tersebut dengan tingkat performance atau kualitas yang lebih
baik. Koordinasi dan kerjasama antara beberapa pihak terkait barangkali dapat
menghasilkan program yang lebih komprehensif dan aplikatif ( Dinas peternakan,
perguruan tinggi dll). Desain, cetak biru ataupun rancangan program
pengembangan kambing Boerawa hendaknya disusun dengan tetap mengedepankan
kaidah-kaidah pemuliaan, aplikatif dan dapat digunakan sebagai acuan teknis
dalam produksi kambing Boerawa di lapangan.
Akhirnya, upaya pengembangan kambing Boerawa di
Lampung yang merupakan langkah awal dalam mendorong berkembangnya usaha
peternakan bagi petani perlu didukung secara lebih maksimal, tentunya peran
pemerintah melalui dinas teknis terkait harus lebih responsif dalam
menanganinya melalui program-program yang lebih efektif, berhasil dan berdaya
guna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar